Foto: Pengamat kebijakan publik Agum M Yasin
OPINI - Belasan dapur Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang masih berstatus persiapan dan pembangunan terancam gagal beroperasi. Kondisi itu mencuat setelah terbongkarnya kasus dugaan korupsi yang menyeret sejumlah mantan pejabat Badan Gizi Nasional atau BGN.
Dapur-dapur tersebut tersebar di sejumlah kecamatan di Purwakarta. Di lapangan, progres pembangunannya bervariasi, mulai dari sekitar 20 persen hingga hampir rampung 90 persen.
Sebagian bahkan disebut sudah memasuki tahap akhir dan tinggal menunggu proses verifikasi kelayakan bangunan serta fasilitas oleh BGN, sebelum kemudian dilakukan penunjukan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.
Namun, keberadaan dapur-dapur baru itu kini menjadi sorotan. Pasalnya, sejumlah titik diduga muncul setelah BGN menutup portal pendaftaran daring melalui laman resminya sejak akhir 2025.
Penutupan portal tersebut semestinya menghentikan proses pengajuan titik dapur baru. Akan tetapi, di Purwakarta, titik-titik dapur MBG justru terus bermunculan. Jumlahnya bahkan disebut telah melampaui kebutuhan dan kuota awal yang diperkirakan hanya sekitar 105 titik.
Pengamat Kebijakan Publik di Purwakarta, Agus M. Yasin, menilai BGN perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur-dapur yang saat ini masih dalam proses pembangunan maupun persiapan operasional.
Menurut Agus, munculnya titik-titik baru setelah portal pendaftaran resmi ditutup patut ditelusuri secara serius. Ia menduga ada praktik tidak sehat dalam proses penetapan sebagian titik dapur tersebut.
“Dengan terbongkarnya kasus korupsi BGN ini, maka terhadap titik-titik dapur baru yang sekarang sedang proses bangun, saya menyebutnya anak haram. Karena lahir secara abnormal,” ujar Agus M. Yasin kepada awak media, Selasa, 9 Juni 2026.
Agus meminta BGN tidak sekadar fokus pada kasus hukum yang sedang berjalan, tetapi juga menertibkan dampak kebijakan di lapangan. Menurutnya, dapur-dapur yang belum beroperasi dan diduga muncul melalui jalur tidak semestinya tidak boleh langsung diberi izin operasional.
Ia juga meminta BGN menelusuri kemungkinan keterkaitan dapur-dapur tersebut dengan pihak-pihak yang kini terseret perkara hukum.
“BGN harus tegas. Jangan memberi izin operasional terhadap dapur yang statusnya masih persiapan, apalagi jika jelas-jelas terafiliasi dengan para tersangka,” kata Agus.
Lebih jauh, Agus menilai penertiban tidak cukup hanya dilakukan terhadap dapur yang masih tahap pembangunan. Dapur-dapur yang sudah beroperasi pun, menurutnya, perlu diaudit kembali, baik dari aspek legalitas, kelayakan, maupun kebutuhan riil di setiap wilayah.
Ia menilai jumlah dapur MBG di Purwakarta sudah menunjukkan gejala berlebih. Jika tidak segera dikendalikan, program yang semestinya berorientasi pada pelayanan gizi bagi pelajar itu berpotensi menjadi lahan kepentingan baru.
“Kalau perlu, dapur-dapur yang bermasalah dibekukan. Ini bukan hanya soal administrasi, tetapi juga soal integritas program. Komitmen Kepala BGN yang baru, Bu Nanik, sedang diuji di sini. Apakah punya visi baru atau sama saja dengan pendahulunya,” tegas Agus.
Berdasarkan penelusuran data BGN, sejumlah kecamatan di Kabupaten Purwakarta tercatat memiliki jumlah dapur MBG jauh di atas batas ideal yang sebelumnya direncanakan pemerintah.
Kecamatan Purwakarta menjadi wilayah dengan jumlah dapur terbanyak, yakni mencapai 34 unit. Angka tersebut hampir enam kali lipat dari batas maksimal enam dapur per kecamatan.
Selain Kecamatan Purwakarta, wilayah lain juga mencatat jumlah dapur yang cukup tinggi. Kecamatan Plered memiliki 17 dapur, Darangdan dan Sukatani masing-masing 13 dapur, sementara Bungursari dan Tegalwaru masing-masing memiliki 11 dapur.
Jatiluhur, Pasawahan, Wanayasa, dan Bojong juga tercatat memiliki 10 dapur MBG. Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa distribusi dapur MBG di Purwakarta tidak lagi mengacu pada kebutuhan proporsional tiap wilayah.
Berikut jumlah dapur MBG di setiap kecamatan di Kabupaten Purwakarta:
Purwakarta: 34 dapur
Plered: 17 dapur
Darangdan: 13 dapur
Sukatani: 13 dapur
Bungursari: 11 dapur
Tegalwaru: 11 dapur
Bojong: 10 dapur
Jatiluhur: 10 dapur
Pasawahan: 10 dapur
Wanayasa: 10 dapur
Babakan Cikao: 9 dapur
Campaka: 8 dapur
Cibatu: 5 dapur
Maniis: 5 dapur
Pondoksalam: 4 dapur
Kiarapedes: 3 dapur
Sukasari: 1 dapur
Dengan komposisi tersebut, total dapur MBG di Purwakarta mencapai 174 titik. Jumlah ini jauh melampaui perkiraan kuota awal sekitar 105 titik. (***)
FOLLOW THE INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram