-->

NASIONAL


PENDIDIKAN

Senin, 04 Mei 2026

Dari Nota ke Penipuan, Komplotan Sikat Sembako Rp13 Juta di Depok



CILODONG — Aksi pencurian dengan pola terorganisir terjadi di sebuah toko grosir sembako di kawasan Ruko Mitra Niaga, Jalan Raya Abdul Gani 1, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, pada Sabtu (2/5/2026) sore.

Komplotan pelaku yang terdiri dari 3 orang pria dan 1 orang perempuan mengenakan jilbab itu, memanfaatkan celah kelengahan kasir dengan modus transaksi berulang hingga berhasil membawa kabur barang dagangan senilai sekitar Rp13 juta lebih.

Peristiwa bermula ketika salah satu pelaku datang dan melakukan pembelian secara wajar. Transaksi pertama berlangsung normal—barang dibayar lunas tanpa menimbulkan kecurigaan.

Sekitar 30 menit kemudian, rombongan yang sama kembali datang dan melakukan pemesanan dalam jumlah lebih besar. Situasi di meja kasir pun berubah.

Seorang perempuan berjilbab dalam kelompok tersebut mengajak kasir berbincang cukup lama. Percakapan itu diduga menjadi bagian dari strategi pengalihan perhatian. Di saat bersamaan, pelaku lain mulai mengangkut barang-barang sesuai nota pesanan.

Tanpa verifikasi pembayaran yang tuntas, seluruh barang dipindahkan ke luar toko. Para pelaku sempat memberi kesan bahwa pembayaran akan segera diselesaikan.

Kepercayaan yang terbentuk dari transaksi pertama membuat kasir tidak langsung menyadari adanya kejanggalan. Sekitar 10 menit setelah rombongan meninggalkan lokasi, barulah diketahui bahwa barang telah dibawa tanpa pembayaran.

Dari rekaman kamera pengawas (CCTV), sedikitnya tiga orang pelaku terekam jelas. Selain itu, terlihat kendaraan yang digunakan untuk mengangkut barang hasil curian, yakni mobil Toyota Avanza berwarna hitam dengan nomor polisi B 2389 KAS.

Pemilik toko, Parulian Sitanggang (45), telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sukmajaya. Laporan itu tercatat dengan nomor STTP/247/B/V/2026/SEK SKJ/RESTRO DPK/PMJ.

“Kerugian ditaksir mencapai Rp13 juta, sebagian besar berupa kebutuhan pokok,” ujar Parulian.

Polisi saat ini tengah mendalami kasus tersebut, termasuk mengidentifikasi para pelaku dan menelusuri keberadaan kendaraan yang digunakan.

Peristiwa ini menjadi peringatan bagi pelaku usaha ritel dan grosir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pola kejahatan yang memanfaatkan kelengahan dalam transaksi, terutama pembelian berulang dalam waktu singkat.

Editor: AYS
Sumber: Humas MIO Indonesia

Begal Sadis Intai Kurir di Astana Anyar, Modus Berteduh



BANDUNG — Aksi pembegalan terhadap seorang kurir terjadi di kawasan Astana Anyar, Kota Bandung, pada Minggu (3/5/2026). Pelaku menggunakan modus berpura-pura berteduh sebelum akhirnya menodong korban dengan senjata tajam.

Korban diketahui bernama Hasan Al Nazhari, seorang kurir pengantar paket yang saat itu tengah berhenti di pinggir jalan untuk menghindari hujan.

Peristiwa bermula ketika korban sedang berteduh. Tak lama kemudian, empat orang pelaku datang dan ikut berada di lokasi yang sama. Salah satu pelaku sempat berbasa-basi dengan meminta plastik untuk melindungi telepon genggamnya dari hujan.

Namun situasi berubah cepat. Salah satu pelaku tiba-tiba mengeluarkan pisau dan langsung menodongkan ke arah perut korban. Korban sempat berusaha menghindar, bahkan nyaris terkena tusukan di bagian bahu.

Dalam kondisi terdesak, korban terjatuh. Pelaku kemudian dengan leluasa merampas sepeda motor serta paket yang dibawa korban sebelum akhirnya melarikan diri.

Kapolsek Astana Anyar, Fetrizal, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut jumlah pelaku sebanyak empat orang.

“Dari hasil penyelidikan, kami sudah mengamankan dua pelaku. Sementara dua lainnya masih dalam pengejaran,” ujarnya.

Polisi bergerak cepat dan berhasil menangkap dua pelaku dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kejadian. Penangkapan dilakukan dengan bantuan masyarakat dan pengembangan di lapangan.

Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan atau keterlibatan pelaku lain dalam aksi kejahatan tersebut.

Selain itu, polisi juga masih memburu dua pelaku yang identitasnya telah dikantongi

Polisi mengimbau masyarakat, khususnya para kurir dan pengendara, untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat berhenti di tempat sepi atau dalam kondisi cuaca buruk. (Red)

REDAKSI BICARA: MEMASUNG ESENSI DALAM BARISAN UPACARA


Gambar : Ilustrasi 

​Setiap tanggal 2 Mei, kita seolah terjebak dalam sebuah ritual tahunan yang nyaris menyerupai teater kolosal. Di bawah terik matahari yang menyengat lapangan-lapangan terbuka di Purwakarta, ribuan guru diminta berdiri tegak, mendengarkan pidato tentang "Merdeka Belajar" yang dibacakan dari balik podium teduh yang sejuk.

​Namun, ada satu pertanyaan besar yang selalu luput dari naskah pidato pejabat: Di mana esensi pendidikan dalam tumpukan kuitansi sewa tenda dan sound system senilai puluhan juta rupiah?

Simbolisme yang Mematikan Logika

​Anggaran Rp50 juta mungkin terdengar kecil bagi sebuah birokrasi, namun bagi seorang guru honorer di pelosok Purwakarta, angka itu adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau. Mahesa Jenar benar ketika ia berujar bahwa dana tersebut lebih mulia jika mendarat di dompet para pendidik berprestasi ketimbang habis menguap bersama asap kendaraan dinas yang terparkir rapi di pinggir lapangan.

​Kita sering kali lebih sibuk merayakan "bungkus" pendidikan daripada membenahi "isinya". Kita lebih bangga melihat barisan yang rapi di lapangan daripada melihat dapur guru yang berasap. Saat anggaran daerah terkuras untuk menyewa panggung megah dan mencetak baliho wajah pejabat yang tersenyum lebar, kita sebenarnya sedang mempertontonkan sebuah ironi yang menyakitkan.

Pendidikan Bukan Pertunjukan

esensi hardiknas yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara adalah soal pembebasan dan kesejahteraan batin serta lahiriah. Pendidikan tidak akan pernah merdeka jika para pengajarnya masih dikejar bayang-bayang utang hanya untuk sekadar bertahan hidup sampai akhir bulan.

  • ​Apakah keringat guru honorer yang berdiri di barisan paling belakang itu dihargai setimpal dengan nasi kotak mewah di meja VIP?
  • ​Apakah piagam kertas yang dibagikan secara simbolis bisa membayar biaya sekolah anak-anak mereka sendiri?

Momentum untuk Berbenah

​Pemerintah Kabupaten Purwakarta seharusnya memiliki keberanian untuk mendobrak tradisi usang ini. Menghormati Hardiknas tidak harus dengan pengerahan massa. Menghormati Hardiknas berarti memastikan bahwa guru tidak lagi dianggap sebagai "pahlawan" yang harus selalu berkorban dalam kemiskinan, sementara birokrasi berpesta di atas nama dedikasi mereka.

​Sudah saatnya upacara di lapangan terbuka yang menelan biaya puluhan juta itu dipensiunkan. Gantilah dengan kebijakan yang menyentuh akar rumput. Berikan bonus tunai, subsidi kesehatan, atau akses literasi digital bagi mereka yang benar-benar berjuang di barisan depan kelas, bukan barisan depan lapangan.

​Sebab, pendidikan yang maju tidak dibangun dari atas panggung pidato, melainkan dari kesejahteraan guru yang terjaga di balik meja kelas. Jangan biarkan Hardiknas hanya menjadi seremoni tanpa hati, yang megah di mata kamera namun hampa di perut para pendidik.

Warga Geruduk Ponpes Ndholo Kusumo Pati, Desak Pengusutan Dugaan Pelecehan Seksual



PATI — Ratusan warga menggeruduk Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Sabtu (2/5/2026). Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum pengasuh pesantren.

Massa aksi terdiri dari gabungan warga setempat, Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi), serta GP Ansor Pati. Mereka mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus yang dinilai telah meresahkan masyarakat.

Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan tuntutan agar proses hukum dilakukan secara transparan dan profesional. Mereka juga meminta adanya perlindungan terhadap para korban serta jaminan keamanan bagi lingkungan pesantren.

Sejumlah peserta aksi terlihat menyuarakan aspirasi secara terbuka di sekitar area pesantren dengan pengawalan aparat keamanan guna menjaga kondusivitas situasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan pelecehan seksual tersebut kini telah masuk dalam penanganan pihak kepolisian. Aparat disebut tengah melakukan penyelidikan dan pengumpulan keterangan dari sejumlah pihak terkait.

Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia menyatakan dukungan terhadap proses hukum yang berjalan. Sebagai langkah awal, aktivitas tertentu di lingkungan pesantren, termasuk penerimaan santri baru, dikabarkan untuk sementara dihentikan.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi terkait jumlah pasti korban maupun kronologi lengkap kejadian. Aparat mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Kasus ini menjadi perhatian publik dan menegaskan pentingnya pengawasan terhadap lingkungan pendidikan, termasuk lembaga keagamaan, guna memastikan keamanan serta perlindungan bagi peserta didik. (Red)

Kirab Budaya Berujung Insiden!” Ketua DPRD Terjatuh dari Kuda



SUMEDANG — Insiden mengejutkan terjadi saat kegiatan kirab budaya dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sumedang, yang digelar pada Minggu (4 Mei 2026).

Ketua DPRD Kabupaten Sumedang dilaporkan terjatuh dari kuda yang ditungganginya ketika mengikuti prosesi tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi di tengah jalannya kirab yang diikuti sejumlah pejabat daerah dan peserta budaya.

Dalam rekaman yang beredar, korban tampak kehilangan kendali sebelum akhirnya terjatuh. Situasi semakin genting ketika kuda yang ditungganginya diduga sempat menginjak tubuhnya.

Petugas yang berada di lokasi langsung bergerak cepat memberikan pertolongan. Korban kemudian segera dievakuasi dan dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Belum ada keterangan resmi terkait kondisi terbaru korban. Namun sumber di lapangan menyebutkan bahwa korban dalam kondisi sadar saat dievakuasi.

Insiden ini menjadi perhatian publik karena terjadi dalam agenda resmi daerah. Pihak terkait diharapkan segera memberikan klarifikasi resmi, sekaligus melakukan evaluasi terhadap aspek keamanan dalam kegiatan serupa di masa mendatang. (Red)

INTERNASIONAL

RELIGI

SPORT

TNI POLRI


WISATA

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved