-->

NASIONAL


PENDIDIKAN

Rabu, 15 April 2026

5 Tempat Keramat di Jawa Barat yang Tak Pernah Sepi, Nomor 1 Jadi Pusat Ziarah Nasional



RELIGI – Sejumlah tempat keramat di Jawa Barat hingga kini masih menjadi tujuan utama ziarah masyarakat. Selain memiliki nilai spiritual, lokasi-lokasi tersebut juga menyimpan jejak sejarah panjang, khususnya terkait penyebaran Islam dan peninggalan tokoh kerajaan Sunda.

Tradisi ziarah yang terus berlangsung menunjukkan kuatnya keterikatan masyarakat terhadap nilai religius dan budaya lokal. Berikut lima tempat keramat yang paling dikenal dan kerap dikunjungi peziarah:

Salah satu yang paling populer adalah Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana. Situs ini merupakan tempat peristirahatan Sunan Gunung Jati, tokoh penting dalam penyebaran Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kompleks makam ini tidak pernah sepi, terutama menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan.

Di wilayah Tasikmalaya, terdapat Gua Safarwadi Pamijahan yang berlokasi di Desa Pamijahan. Tempat ini dikenal sebagai pusat dakwah Syekh Abdul Muhyi. Gua tersebut diyakini memiliki nilai spiritual tinggi dan sering digunakan untuk berdoa serta melakukan ritual keagamaan.

Sementara itu di Garut, peziarah banyak mendatangi makam Prabu Kian Santang yang berada di Kampung Godog. Tokoh ini dikenal dalam legenda sebagai sosok sakti dari Kerajaan Pajajaran yang kemudian menyebarkan ajaran Islam. Kompleks makamnya menjadi salah satu pusat ziarah penting di wilayah Priangan.

Tak jauh berbeda, di Kabupaten Ciamis terdapat Situs Keramat Depok yang berlokasi di Desa Depok. Situs ini dipercaya sebagai petilasan perjalanan spiritual Prabu Kian Santang. Dikelilingi pepohonan tua, suasana di lokasi ini kental dengan nuansa sakral dan sering dimanfaatkan untuk doa serta tirakat.

Adapun di Cirebon, terdapat Keramat Plangon yang berada di Desa Babakan. Kompleks ini merupakan makam tokoh penyebar Islam seperti Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan. Selain nilai religius, kawasan ini juga dikenal dengan keberadaan kera liar yang hidup di sekitar hutan, menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Fenomena ramainya ziarah ke tempat-tempat keramat ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat tidak hanya menjaga tradisi spiritual, tetapi juga merawat warisan sejarah. Aktivitas ziarah umumnya meningkat pada malam Jumat, bulan Maulid, serta menjelang Ramadan.

Bagi sebagian masyarakat, ziarah bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang berjasa dalam perjalanan sejarah dan penyebaran agama di Tanah Pasundan. (Red)

Gaji ke-13 ASN Dipastikan Cair, Pemerintah Terbitkan Aturan Resmi



JAKARTA – Pemerintah memastikan pencairan gaji ke-13 bagi aparatur negara pada tahun 2026 dengan dasar hukum yang telah ditetapkan. Kebijakan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2026 yang resmi diteken oleh Presiden Prabowo Subianto pada 3 Maret 2026.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah juga menerbitkan aturan teknis melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 13 Tahun 2026. Regulasi ini menjadi pedoman bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah dalam proses penyaluran gaji ke-13 kepada para penerima.

Pemerintah menetapkan bahwa pencairan gaji ke-13 dilakukan pada pertengahan tahun 2026, dengan waktu pelaksanaan yang disesuaikan dengan kesiapan masing-masing instansi. Meski demikian, secara umum penyaluran diharapkan berlangsung pada bulan Juni.

Adapun besaran gaji ke-13 mencakup komponen penghasilan utama, seperti gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan atau umum, serta dalam kondisi tertentu termasuk tunjangan kinerja sesuai ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan ketentuan tersebut, nominal yang diterima bervariasi tergantung pada golongan dan jabatan. ASN golongan rendah diperkirakan menerima sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta, sementara golongan menengah berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta. Untuk golongan tinggi dan pejabat dengan tunjangan besar, nilai yang diterima bisa mencapai lebih dari Rp7 juta.

Sementara itu, bagi pensiunan, gaji ke-13 diberikan sebesar penghasilan pensiun bulanan yang diterima.

Pemerintah berharap kebijakan ini dapat menjaga daya beli masyarakat serta memberikan stimulus ekonomi, khususnya di sektor pendidikan dan kebutuhan rumah tangga.

Dengan adanya regulasi yang telah ditetapkan, instansi terkait kini diharapkan segera memproses pencairan sesuai dengan jadwal dan mekanisme yang berlaku. (*)

Dorong Kapasitas Pelaku UMKM dan Kemajuan Ekonomi Daerah, BRI Branch Office Amlapura Salurkan KUR Rp 604 Miliar Hingga Desember 2025.



AMLAPURA – BRI Branch Office (BO) Amlapura, Kab. Karangasem, Provinsi Bali terus memperkuat perannya sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga Desember 2025, BRI BO Amlapura telah menyalurkan KUR sebesar Rp 604 Miliar.

Dwi putra Apriyantono, Branch Manager BRI BO Amlapura mengatakan, sebagian besar penyaluran KUR didominasi oleh KUR Sektor produksi dari total penyaluran hingga Desember 2025. Sektor produksi yang dimaksud mencakup bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan industri jasa lainnya yang merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat Karangasem.

Dengan pembiayaan yang memadai dan akses permodalan yang lebih mudah melalui KUR, pelaku usaha di wilayah Amlapura memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kapasitas usahanya, membuka lapangan kerja dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.

Selain itu KUR menjadi wujud nyata dari komitmen BRI yang sejalan dengan Astacita Pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui pemberdayaan UMKM, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong pemerataan pembangunan.

“Ini merupakan upaya nyata BRI dalam mendukung perekonomian masyarakat di wilayah Amlapura melalui penyaluran pendanaan usaha. Kami juga melihat ada banyak potensi di wilayah Amlapura di bidang Pertanian dan Industri Pengolahan yang tentunya BRI memliki peran untuk mendukung pelaku usaha dalam pendanaan usaha maupun peningkatan kapasitas usaha” ungkapnya.

Putra menambahkan, dukungan BRI tidak hanya sebatas penyaluran dana, tetapi juga mencakup pemberdayaan dan pendampingan usaha dan edukasi finansial agar para debitur dapat mengelola usahanya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan visi BRI untuk menjadi mitra terpercaya dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan, khususnya di daerah-daerah yang memiliki potensi unggulan.

Dengan strategi yang terfokus pada sektor produktif, BRI Branch Office Amlapura optimis dapat terus menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dan menjawab tantangan pembangunan inklusif di tingkat lokal.

“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya berupa modal usaha saja tapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya. Kami juga terus mengedukasi pelaku usaha untuk melek digital dan memanfaatkan platform-platform penjualan online sehingga bisa mendorong kapasitas usaha dan bisa naik kelas” tegasnya.

Keywords: _BRI, BBRI, , BRI Branch Office Amlapura, KUR BRI_
__Informasi mengenai BANK BRI dapat diakses melalui situs www.bri.co.id_

Relawan sebagai “Mesin Kemenangan” yang Ditinggalkan



Narasi Dibuat Murfito Adi 

OPINI - Dalam setiap momentum pemilihan lembaga eksekutif—baik Presiden, Gubernur, maupun Bupati/Wali Kota—relawan selalu hadir sebagai kekuatan tak terlihat namun sangat menentukan. Mereka bergerak tanpa bayaran, mengetuk pintu ke pintu, membangun opini di media sosial, hingga menjaga suara di lapangan. 

Tidak jarang, kemenangan seorang kandidat justru sangat ditopang oleh militansi para relawan yang bekerja lebih fleksibel dibandingkan struktur formal partai politik.

Relawan menjadi “mesin kemenangan” yang efektif: cepat bergerak, dekat dengan masyarakat, dan mampu menjangkau ruang-ruang yang tidak selalu bisa disentuh oleh mesin politik resmi. 

Mereka hadir dengan semangat idealisme, harapan akan perubahan, serta keyakinan bahwa perjuangan mereka akan membawa dampak nyata bagi daerah maupun bangsa.

Namun ironi kerap muncul setelah pesta demokrasi usai

Ketika kekuasaan telah diraih, relawan perlahan tersisih dari lingkaran pengaruh. Posisi-posisi strategis dalam pemerintahan umumnya diisi oleh elite partai, teknokrat, atau figur yang memiliki kedekatan struktural dengan kekuasaan. 

Sementara relawan—yang sebelumnya berada di garis depan perjuangan—kembali ke kehidupan semula, bahkan tidak sedikit yang kehilangan akses komunikasi dengan pemimpin yang dulu mereka dukung.

Kondisi ini memunculkan kekecewaan yang nyata. Banyak relawan merasa dilupakan, seolah peran mereka hanya dibutuhkan saat masa kampanye. Loyalitas dan pengorbanan yang diberikan tidak selalu sebanding dengan pengakuan yang diterima. 

Dari sinilah lahir anggapan bahwa relawan hanya menjadi alat elektoral: dipakai saat dibutuhkan, lalu ditinggalkan setelah tujuan tercapai.

Meski demikian, persoalan ini tidak bisa dilihat semata-mata sebagai kegagalan moral kekuasaan

Dalam sistem pemerintahan yang sehat, pengisian jabatan publik memang harus mengedepankan profesionalisme, kompetensi, dan prinsip meritokrasi. Pemerintahan tidak bisa sepenuhnya diisi oleh relawan, karena berisiko menimbulkan konflik kepentingan serta melemahkan tata kelola.

Namun di sisi lain, ketiadaan ruang atau mekanisme yang jelas untuk mengakomodasi aspirasi relawan juga menjadi persoalan tersendiri. Relawan sering berada di wilayah abu-abu: bukan bagian dari struktur resmi, tetapi memiliki kontribusi besar dalam kemenangan. 

Tanpa wadah yang tepat, energi relawan pasca-pemilu kerap tidak tersalurkan dengan baik—bahkan berpotensi berubah menjadi kritik tajam dari dalam.

Fenomena “relawan yang ditinggalkan” pada akhirnya menjadi refleksi penting dalam dinamika demokrasi kita. Relawan seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai alat pemenangan, tetapi juga sebagai mitra partisipatif yang tetap memiliki ruang dalam proses pembangunan dan pengawasan kebijakan.

Karena sejatinya, relawan bukan sekadar mesin kemenangan. Mereka adalah suara dan harapan masyarakat yang seharusnya tetap dirangkul, bukan dilupakan. (FITO)

Selasa, 14 April 2026

Aksi Nyata Persit KCK Purwakarta: Tanam 100 Pohon, Wujudkan Lingkungan Lestari



PURWAKARTA - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persit Kartika Chandra Kirana (KCK), Persit KCK Cabang XXIX Kodim 0619/Purwakarta menggelar kegiatan penanaman pohon di Kampung Kertajaya, RT 12/06, Dusun 3, Desa Sukajadi, Kecamatan Pondoksalam, Selasa (14/4/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Persit KCK Cabang XXIX Kodim 0619/Purwakarta, Ny. Azmira Ardha Cairova Pariputra, dan diikuti oleh sekitar 23 peserta yang terdiri dari jajaran pengurus Persit.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Persit KCK Cabang XXIX Kodim 0619/Purwakarta, Ny. Lisye Jaja Jamaludin, bersama para pengurus lainnya yang secara aktif terlibat dalam proses penanaman.

Menurut Ny. Azmira Aziza menuturkan, Sebanyak 100 pohon berhasil ditanam dalam kegiatan ini, terdiri dari berbagai jenis tanaman produktif dan pelindung, di antaranya pohon alpukat, jambu kristal, sukun, durian, serta mahoni.

"Penanaman ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan HUT Persit, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan penghijauan wilayah," ujarnya.

Ketua Persit menambahkan Melalui kegiatan ini, Persit KCK Cabang XXIX Kodim 0619/Purwakarta diharapkan dapat terus berkontribusi positif bagi masyarakat, khususnya dalam menjaga kelestarian lingkungan serta mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat. (FT)

INTERNASIONAL

RELIGI

SPORT

TNI POLRI


WISATA

© Copyright 2021 INFONAS.ID | Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved